Kondisi Iran Terakhir : Kantor Berita Irna Down, Imam Khamenei Akui Adanya Protes Yang Ditunggangi Amerika

 Kondisi Iran Terakhir : Kantor Berita Irna Down, Imam Khamenei Akui Adanya Protes Yang Ditunggangi Amerika 

 


Teheran, 12/01/2026
Iran mengalami kegoncangan politik dalam negeri. Sejumlah demonstrasi terjadi di berbagai wilayah Iran. Pemerintah Iran memutuskan akses internet, dan dalam beberapa hari terakhir, menyusul situs Kantor Berita Iran (Irna) juga putus
*.

Imam Khamenei pemimpin tertinggi Republik Islam Iran tampil di depan publik (11/01/2026) dan menyangkal spekulasi bahwa Pemimpin tertinggi Iran, Imam Khamenei, melarikan diri dari Teheran. Imam Khamenei menyebut kerusuhan yang terjadi di beberapa kota Iran adalah kerja antek-antek Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mencoba menipu rakyat Iran, dengan janji-janji kosong.

" Para perusuh membakar tempat sampah agar terlihat seperti gerakan besar masyarakat Iran. Padahal mereka melakukan itu atas agitasi Amerika Serikat... " kata Khamenei kepada ribuan masyarakat Iran yang berkumpul di Teheran.

" Rakyat Iran jangan tertipu oleh agitasi yang dilakukan oleh Donald Trumph, dia lah yang menyerang Iran beberapa waktu yang lalu dan membunuh lebih dari 1000 orang, termasuk masyarakat sipil yang jadi korban kebrutalan mereka. (Donald Trump) itu adalah pembunuh rakyat Iran, akan tetapi sekarang seolah-olah menjadi Pahlawan kesiangan bagi Rakyat Iran. " kata Khamenei keras.

Imam Khamenei juga menyerukan agar rakyat Iran tidak mudah tertipu dengan gaya provokatif Donald Trump, yang sok benar sendiri, padahal sebenarnya adalah pembunuh rakyat Iran. Khamenei menyatakan bahwa Republik Islam Iran didirikan atas dasar Islam dan diperjuangkan dengan pengorbanan ribuan rakyat yang tidak sedikit, tidak akan mungkin kembali ke masa lalu menjadi dasar negara yang bukan berbasis Islam.

Imam Khamenei juga menyebut-nyebut kebrutalan Amerika Serikat dalam kasus Venezuela, yang sok benar sendiri. Dengan sembarangan melakukan intervensi ke negara lain, merupakan pelanggaran serius dari hukum internasional. Negaranya sendiri berantakan, malah mengagitasi dan mencoba menipu rakyat Iran. 




Pemimpin tertinggi negara di Iran adalah Presiden. Sementara itu pemimpin Agama tertinggi saat ini ada di tangan Imam Khemenei yang menggantikan Imam Khomeini yang telah wafat. 

Model demokrasi Iran berbeda dengan negara lain. Sejumlah calon Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat, akan dinilai kecakapannya oleh Dewan Agama yang saat ini dipimpin oleh Imam Khamenei. Calon-calon Presiden yang lulus dari penilaian Dewan Agama ini lah yang kemudian diperkenalkan kepada rakyat untuk dipilih langsung. Dewan agama akan menyaring profil etika dan kelayakan profil para calon Presiden Iran yang diajukan oleh Komisi Pemilihan Umum. Komisi Pemilihan Umum kemudian mengijinkan calon-calon Presiden yang sudah lulus verifikasi profil dan etika dari Dewan ini untuk berkampanye di depan rakyat dalam sebuah Pemilihan Umum langsung yang terbuka untuk seluruh rakyat Iran. 

Sebelum Revolusi Iran pecah pada tahun 1978, Iran dipimpin oleh Rezim Syah Reza Pahlevi, dengan haluan sekuler. Ide membuka mini market minuman keras yang dilakukan di seluruh Iran, membuat mahasiswa Iran yang gandrung kepada nilai-nilai Islami turun ke jalan, dan melakukan protes penolakan besar-besaran. Imam Khomeini yang pada saat itu adalah salah satu mullah di Kota Qum menyerukan blokade minuman keras ini di seluruh Iran. Menyebarluaskan dan mengijinkan peredaran minuman keras di seluruh negara adalah salah satu hal yang dilarang dalam Agama Islam.    

Kharisma Imam Khomeini, dosen dari Kota Qum yang memiliki darah dari Nabi Muhammad, dan juga ulama besar ini, membuat Syah Reza Pahlevi membuang Imam Khomeini ke Irak, dan kemudian mengasingkannya ke Paris Perancis bertahun-tahun. Syah Reza Pahlevi merasa terancam dengan kharisma Imam Khomeini, sehingga dengan segala cara ingin menyingkirkan Imam Khomeini. 


 




Bahkan putra laki-laki Imam Khomeini juga dibunuh oleh Rezim sekuler yang terkenal kejam pada waktu itu.

Revolusi yang dilakukan oleh mahasiswa di seluruh Iran, mengobarkan perlawanan keras kepada rezim Syah Reza Pahlevi. Dan pada 16 Januari 1979 Syah Reza Pahlevi akhirnya melarikan diri dari Iran menuju ke negara pengasingan, karena gerakan revolusi rakyat meruntuhkan seluruh sendi pemerintahan negara. 

Nasir Tamara, jurnalis dari Indonesia, saat itu, adalah satu-satunya jurnalis di dunia, yang menyaksikan dan bahkan ikut langsung terbang bersama Syah Reza Pahlevi saat melarikan diri dari Iran. Tulisan Nasir Tamara menjadi sebuah dokumen jurnalistik terbaik yang merekam detik-detik keruntuhan rezim Syah Reza Pahlevi.

Syah Reza Pahlevi meninggal di Mesir, setelah terpaksa harus pindah dari satu negara ke negara lain, untuk mendapatkan suaka politik. Presiden Mesir Anwar Sadat, akhirnya memberikan suaka politik kepada Syah Reza Pahlevi sampai masa meninggalnya. Putra Syah Reza Pahlevi saat ini berada di Amerika Serikat dan menjadi salah satu yang punya kepentingan untuk kembali ke Iran, untuk mengubah kembali dasar Republik Islam menjadi sekuler kembali.

Media pro barat mengangkat dengan penuh tendensius, aksi di beberapa kota di Iran. Bahkan media pro Barat ini memberitakan jumlah korban demonstrans yang tewas mencapai lebih dari 500 orang (terakhir diisukan korban tewas telah mencapai 2000 orang lebih di seluruh Iran). Menurut media pro Barat, Khamenei, bahkan diisukan, telah melarikan diri dari Teheran,  sejak awal tahun baru 2026 yang lalu. Isu tersebut dibantah oleh Khamenei yang muncul di depan publik dan dalam siaran medianya di Channel X (twitter).

Menurut media Barat demonstrasi ini dipicu oleh kondisi ekonomi yang terpuruk di Iran dan juga adanya kekurangan pasokan air yang parah di Teheran. 

Kondisi Kota Teheran sendiri memang adalah kota yang sejak dahulu kekurangan air bersih. Pembuatan bendungan di sekitar Teheran dilakukan untuk mencukupi kebutuhan air ini. Sebuah kawasan padang garam terbesar di dunia yang ada di Iran, termasuk salah satu lokasi yang menarik besar-besaran cadangan air tanah di beberapa lokasi di sekitar Padang Garam itu, termasuk salah satunya adalah Kota Teheran.

Mata uang Riyal Iran dalam kondisi tidak laku di dunia. Harganya rendah sekali di pasar uang global. Bersama dengan mata uang Rupiah, mata uang Venezuela, Kamboja, Vietnam. Laos, Uzbekistan, mata uang Riyal Iran adalah mata uang paling buruk dan tidak laku di seluruh dunia.

Nilai 1 USD dibeli dengan harga 42 ribu riyal berdasarkan perhitungan wise internasional. Sementara itu menurut perhitungan Times Of India per 3 hari yang lalu harga Riyal Iran dibandingkan dengan 1 US Dollar adalah setara dengan 1,4 juta, atau 1 USD = 1,4 juta Riyal. 

Nilai jeblog mata kuliah Riyal Iran ini, mengalahkan buruknya nilai mata uang Venezuela yang sebelumnya berada di posisi mata uang terburuk di dunia. Nilai mata uang Venezuela tadinya adalah lebih dari 300 ribu (1 USD = 300 ribu Bolivar) akan tetapi setelah Presiden Venezuela ditangkap Amerika Serikat, tiba-tiba mata uang Venezuela terdongkrak sampai 320 (1 USD = 320 Bollivar).

Vijay




Mata Uang terburuk di Seluruh dunia
1 US Dollar Amerika Serikat

1. Bolivar Venezuela,     262.408,1         bolivar Venezuela (VEF).
2. Iran Rial,              
        42.275             Rial Iran (IRR).
3. Dong Vietnam              24.005,00         Dong Vietnam (VND).
4. Leone Sierra                19.750.00         SLL.
5. Laos Kip                       19.606,72         LAK.
6. Rupiah Indonesia         15.298,10         rupiah (IDR).
7. Uzbekistan             
      12.063,65         Sum Uzbekistan (UZS).
8. Franc Guinea                 8.584.91         franc Guinea (GNF).
9. Guarani Paraguay          7.283,78         PYG.
10. Riel Kamboja           
    4.151,44         KHR.

 

 * up date Informatika News Line : sudah hampir 20 hari, sampai 20 Januari 2026, situs kantor berita Iran masih dalam kondisi down, mati total


Baca Juga :

 

 

 

 

 

Lebih baru Lebih lama